Menghadapi Kekeringan Hebat: Petani Desa Jatiraga, Majalengka Berjuang Menyelamatkan Tanaman Padi yang Terancam Gagal Panen

 

Jatitujuh Majalengka Dilanda Kekeringan Hebat, Tanaman Padi pada Mati

MAJALENGKA UPDATE. Desa Jatiraga, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka sedang mengalami kekeringan hebat yang mengancam tanaman padi.

 Ratusan hektare sawah di wilayah tersebut terancam gagal panen akibat kekurangan pasokan air yang disebabkan oleh kekeringan yang melanda. 

Petani di Desa Jatiraga berusaha menyelamatkan tanaman padi dengan memompa air dari Sungai Cimanuk, meskipun biayanya cukup tinggi.

Saat ini, permukaan areal sawah di wilayah tersebut mulai retak-retak dengan retakan tanah selebar 3 cm. 

Beberapa tanaman padi mulai menguning karena kekurangan pasokan air, bahkan ada yang sudah mati. 

Menurut petani setempat, usia tanaman padi di wilayah tersebut berkisar antara 1,6 bulan hingga dua bulan. 

Meskipun ada kemungkinan menyelamatkan sebagian areal sawah jika hujan turun atau pompa air bekerja maksimal, hasil panen diprediksi tidak akan maksimal. 

Hal ini disebabkan oleh kurangnya curah hujan dan cuaca panas yang menyebabkan tanah sawah cepat mengering dan retak-retak, seperti yang diungkapkan oleh Carda, salah seorang petani, pada hari Selasa (13/6/2023).

Beberapa petani telah pasrah menerima situasi ini dengan risiko gagal panen dan bahkan tanaman yang mati. 

Ada juga yang berupaya memompa air dengan risiko biaya yang tinggi karena harus menyewa pompa dari pemiliknya. 

Menurut Carda, modal tanam, biaya garap, dan biaya pompa bisa mencapai Rp 7.000.000 per hektare, karena saat ini upah petani sudah mahal dan sulit diperoleh. 

Kepala Desa Jatiraga, Carsidik, membenarkan bahwa total areal sawah yang terancam gagal panen di wilayahnya mencapai 250 hektare. 

Situasi ini terjadi karena seluruh areal sawah tidak mendapatkan pasokan air, sementara jumlah pompa yang tersedia sangat terbatas, hanya ada 15 pompa berkapasitas 6 dan 8 inci.

Saat ini, seluruh pompa yang dimiliki oleh masyarakat dioperasikan selama 24 jam untuk menyalurkan air dari Saluran Induk Sindupraja ke Sungai Cibuaya.

 Dari Sungai Cibuaya, air tersebut kemudian dialirkan menggunakan pompa ke areal sawah milik petani. 

Menurut Kepala Desa Carsidik, biasanya sawah-sawah ini dialiri air langsung dari Sungai Cibuaya, tetapi karena sungai tersebut mengering, sekarang harus menggunakan air dari Saluran Induk Sindupraja. 

Hal ini menyebabkan biaya operasional menjadi mahal dan tidak memungkinkan menggunakan pompa kecil berukuran 3 inci. 

Carsidik menjelaskan bahwa kondisi seperti ini hampir terjadi setiap tahun karena Sungai Cibuaya mengering lebih cepat.

 Biasanya, sawah-sawah ini mendapatkan pasokan air dari Sungai Cibuaya, tetapi sekarang Sungai Cibuaya mengalami pendangkalan yang parah, menyebabkan banjir mudah terjadi saat musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau.

 Akibat pendangkalan dan penyempitan sungai, air tidak dapat mengalir dengan lancar ke areal sawah, dan petani menghadapi kesulitan mendapatkan pasokan air yang cukup.

"Carsidik mengungkapkan, "Kemungkinan gagal panen ini sudah diduga sejak awal karena petani terlambat menanam pada Musim Tanam II. Jika mereka menanam segera setelah panen, kondisi tanaman tidak akan seburuk ini, tetapi masih ada harapan karena usia tanaman yang lebih tua." Ia berharap ada solusi dari Pemerintah untuk membantu para petani dalam menghadapi situasi ini.

Mayoritas petani di wilayah tersebut telah mengikuti program asuransi pertanian untuk mengantisipasi risiko gagal panen.

 Namun, pendapatan dari polis asuransi tidak sebesar pendapatan yang mereka dapatkan dari hasil panen normal. 

Carsidik menambahkan, "Asuransi hanya memberikan sekitar Rp 6.000.000 per hektare, dan itu pun jika Persatuan Organisasi Perangkat Tanaman (POPT) menyetujui klaim. Sementara itu, pendapatan petani dari hasil panen bisa jauh melebihi nilai asuransi tersebut."

Situasi kekeringan yang melanda Desa Jatiraga, Majalengka menjadi perhatian serius bagi para petani. Mereka menghadapi tantangan besar dalam menjaga tanaman padi tetap hidup dan menghasilkan panen yang memadai. D

iharapkan langkah-langkah yang diperlukan segera diambil oleh pihak berwenang untuk menyediakan pasokan air yang memadai dan memberikan bantuan kepada petani yang terkena dampak kekeringan tersebut. (Kabar Cirebon)

Imaduddin Badrawi, S.Tr.AK

Founder infolabmed.com, bankdarah.com, buku pertama "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik". Content writer di atlm-edu.id, indonewstoday.com, eksemplar.com dan kumparan.com/catatan-atlm. Untuk kerjasama bisa melalui e mail : imadanalis@gmail.com. Media sosial : https://lynk.id/imaduddinbadrawi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Terkini

Formulir Kontak